Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor Gas Alam terbesar di dunia. Dalam salah satu jurnal disebutkan jika Indonesia merupakan negara eksportir gas alam terbesar ke depalan di dunia. Fakta tersebut menunjukan jika Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam yang beragam dan harus dapat dikelola secara mandiri. Sumber daya alam Indonesia khususnya minyak bumi dan gas alam saat ini mayoritas masih dikuasai pihak asing, hal ini disebabkan membutuhkan modal yang sangat besar serta minimnya sumber daya manusia. Fakta tersebut menunjukan jika sumber daya alam masih sangat penting di Indonesia, penting karena dijadikan sebagai salah satu modal yang digunakan untuk pembangunan, hingga saat ini gas alam memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Pertamina yang merupakan raksasa minyak milik negara, saat ini hanya mengoperasikan kilang-kilang yang sudah lama digunakan dan cadangan minyak yang semakin menipis, jika tidak ditindak lanjuti pada tahun 2030 cadangan minyak Indonesia hanya mencapai 334.000 barel/hari.

Salah satu solusi yang masih terus dikembangkan ialah penyediaan data menggunakan pemanfaatan informasi geografis/geospasial. Hal ini dapat memberikan data, yang dapat dianalisis dan berbuah solusi dalam mengeksplorasi potensi migas yang baru khususnya di Indonesia. Peran geograf dalam mengkombinasikan alat dan data kebumian dapat menghasilkan pengoptimalan eksplorasi minyak dan gas bumi. Hal ini yang dapat mempertahankan industri minyak bumi dan gas alam. Selain itu regulasi yang masih terus diperbaiki menjadi salah satu solusi. Revisi Undang-Undang mengenai Minyak Bumi dan Gas diharapkan mampu mendorong berbagai kegiatan ekplorasi cadangan minyak dan gas bumi.

Ikatan Geografi Indonesia (IGI) mengadakan webinar yang dilaksanakan pada tanggal 14 November 2020, dengan judul Kemandirian Energi Melalui Penguatan Kebijakan Sektor (Hulu) Migas. Webinar ini memiliki tujuan untuk memahami isi dari UU no 22 tahun 2002 tentang Minyak dan Gas Bumi serta Merumuskan format yang ideal mengenai Institusi Pengelola Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi dalam hal ini ialah Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKKMIGAS). Kegiatan ini dibuka langsung oleh Heni Yulianto, S.Si. selaku Ketua Panitia serta Dr. Muhammad Dimyati, M.Sc. selaku Plt. Ketua Umum IGI.

Webinar ini dilaksanakan secara daring menggunakan Platform Google Zoom dan Live Streaming Youtube Channel. Dihadiri dengan 150 peserta dari berbagai kalangan mulai dari Dosen, Guru, Mahasiswa hingga Siswa, webinar ini berjalan lancar. Pembicara yang hadir antara lain Bapak Ir. H. Satya Widya Yudha, ME, M.Sc. selaku Penasihat Ahli SKK Migas, membawakan tema mengenai Penguatan Sektor (Hulu) Migas melalui Undang-Undang. Dalam penjelasannya disebutkan jika pembahasan mengenai RUU Migas sudah dilakukan sangat lama, serta banyak paradigma yang harus dipahami oleh masyarakat agar untuk kedepannya Ketahanan, Kemandirian serta Kedaulatan Energi Indonesia semakin membaik. Diakhir presentasi Bapak Satya berharap jika SKKMIGAS dapat menjadi badan khusus untuk mengelola Cadangan Minyak dan Gas yang ada di Indonesia.

Pembiacara selanjutnya ialah Bapak Prof. Dr. rer. nat. Muh. Aris Marfai, M.Sc. selaku Dekan Fakultas Geografi UGM membawakan tema tentang Peran Strategis Informasi Geospasial dalam Sektor Migas. Dalam hal ini Informasi Geospasial Dasar (IGD) maupun Informasi Geospasial Tematik (IGT) sangat signifikan dan cukup berperan penting dalam keberlanjutan persiapan cadangan minyak dan gas, serta banyak teknologi juga aspek-aspek penting yang harus dipertimbangkan seperti aspek geografis contohnya penggunaan bidang Penginderaan Jauh dan Analisis Sistem Informasi Geografis untuk mendukung pengeksplorasian Minyak dan Gas Bumi. Pemaparan materi dilanjutkan oleh Bapak Leonardus J.E. Nugroho, Ak., CA., CFE., IC-SCM selaku Penasihat Ahli (PA) Kepala SKK Migas. Dalam kesempatan ini beliau menyampaikan materi dengan tema Akuntabilitas Publik dalam Sektor (Hulu) Migas. Dalam hal ini keberlanjutan eksplorasi Migas harus diperhatikan baik secara mikro maupun makro dan terus dikawal untuk memastikan akuntabilitas publik di bidang Migas untuk berjalan dengan baik.

Narasumber berikutnya merupakan Koordinator Nasional PWYP (Publish What You Pay) yaitu Bapak Aryanto Nugroho yang membawakan materi Peran Masyarakat Sipil dalam Sektor (Hulu) Migas. Pada kali ini pembawaan materi dilakukan dengan perspektif yang berbeda sehingga dapat melihat tema webinar ini dari berbagai perspektif. Kajian geospasial yang diintregasikan dengan kondisi social budaya merupakan salah satu hal yang penting untuk untuk mendukung dimensi tata kelola di aspek akuntabilitas, partisipasi, dan transparansi, diharapkan akan terjadi kesinambungan dalam pengelolaan Sumber Daya Alam (Migas) dengan masyarakat sekitar.

Pembicara terakhir yaitu Bapak Dr. Saparis Sudaryanto selaku Ketua IV Bidang Terapan Ilmu IGI. Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengelolaan DAS, KLHK. Kesempatan ini Bapak Dr. Saparis membawakan materi mengenai penguatan Industri Migas Melalui Sinergi Kebijakan Kehutanan dan Kebijakan Migas. Tata Kelola hutan cukup penting dalam hal ini berkaitan dengan sinergi kebijakan bidang kehutanan dan kebijakan bidang Migas yang menjadikan masyrakat menjadi elemen utama untuk mempertahankan nilai strategis hutan dan sistem penyanggah hutan. Webinar dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara pembicara dengan peserta yang hadir dan ditutup dengan penyampaian kalimat penutup oleh Dr. Muhammad Dimyati, M. Sc. dengan mengajak seluruh peserta untuk memaksimalkan ilmu yang didapat demi kelancaran dan kemajuan bangsa Indonesia. Dalam pidato penutupnya disampaikan “Kini saatnya geografi berperan, kini saatnya kita bergandengan dengan SKKMIGAS untuk merangkai sebuah ikatan yang memberi banyak rakyat kebahagiaan” ucap Bapak Dimyati yang sekaligus menajdi penutup webinar IGI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *