— Persaingan di pasar smartphone premium kini semakin didominasi oleh kecerdasan buatan (AI). Namun, Samsung memandang keunggulan AI tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya fitur yang disematkan, melainkan oleh sejauh mana teknologi tersebut terintegrasi dalam pengalaman pengguna secara keseluruhan.

Chon Hong, Head of Marketing Samsung Electronics Southeast Asia & Oceania, menjelaskan bahwa Samsung melihat AI bukan sebagai fitur tambahan yang disematkan pada perangkat yang sudah ada. Pendekatan perusahaan berbeda karena AI Galaxy dikembangkan sebagai bagian fundamental dari pengalaman perangkat sejak awal.

“Saya pikir konsumen yang lebih cerdas, khususnya di Indonesia, akan memahami bahwa AI bukan hanya sekadar fitur, ini bukan sebuah spesifikasi. AI adalah tentang seberapa baik kami mengintegrasikannya ke dalam keseluruhan pengalaman perangkat,” ujar Chon dalam acara Galaxy Unpacked 2026 di London.

Menurut Chon, banyak perangkat saat ini mulai menawarkan kemampuan AI. Namun, tantangan terbesarnya bukan hanya sekadar menambahkan fitur baru, melainkan bagaimana membuat AI bekerja secara mulus bersama sistem dan layanan yang sudah ada.

“Jadi, kami bukan hanya sekadar menambahkan satu fitur pada hardware yang sudah ada, banyak merek lain melakukan hal itu, tapi pada Samsung Galaxy, kami sekarang mendesain ulang platform kami dari awal, bukan hanya menambahkan fitur di atas sistem operasi (OS), melainkan kami membangun fondasi baru,” jelas Chon Hong.

Pendekatan ini memungkinkan perangkat Galaxy memiliki kesiapan untuk berinteraksi dengan berbagai layanan AI. “Di mana perangkat Galaxy kini siap untuk pada dasarnya bekerja dengan agen (AI) apa pun, software AI apa pun yang Anda sukai dan bisa Anda pilih, sehingga aplikasi dan layanan kami menjadi lebih mulus (seamless), bekerja sama untuk Anda,” tambahnya.

Samsung juga meyakini bahwa kekuatan utama AI tidak hanya terbatas pada smartphone, tetapi pada ekosistem perangkat yang saling terhubung. Chon menekankan bahwa kemampuan AI akan semakin maksimal ketika perangkat dapat memahami konteks pengguna melalui berbagai perangkat yang mereka gunakan sehari-hari.

“Jadi melampaui smartphone, yang lebih penting saya pikir kekuatan Samsung ada pada ekosistem kami, kan? Karena agar AI dapat bekerja untuk Anda, layaknya asisten atau pendamping Anda di rumah, agar ia bisa bermanfaat bagi Anda, ia harus memahami konteks Anda,” paparnya.

Ia memberikan contoh bagaimana ekosistem Samsung, yang mencakup televisi, perangkat rumah tangga, hingga perangkat wearable, dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai kebutuhan pengguna. “Samsung TV tahu jenis konten apa yang Anda sukai, peralatan rumah tangga Samsung yang tahu apa preferensi diet Anda, dan dari perangkat seperti jam tangan pintar Anda, kami dapat membantu melacak kesehatan Anda, semua ini digabungkan menjadi sebuah kecerdasan, kecerdasan sejati untuk Anda, hanya untuk Anda, dibandingkan dengan apa yang hanya bisa dilakukan oleh sekadar sebuah ponsel,” lanjutnya.

Menurut Chon, inilah yang membedakan Samsung dalam persaingan AI smartphone. Perusahaan berambisi menempatkan Galaxy AI sebagai pengalaman yang lebih menyeluruh dan personal, melampaui sekadar kumpulan fitur yang tersedia di dalam perangkat.

“Saya rasa Samsung adalah tentang menyediakan pengalaman AI yang komprehensif dan holistik ini yang benar-benar disesuaikan untuk Anda, personalisasi,” pungkasnya.