— Newcastle United resmi mengumumkan perekrutan Aladji Bamba dari AS Monaco. Gelandang muda Prancis ini didatangkan dengan mahar 35,5 juta poundsterling, sebuah angka yang dinilai banyak pihak sebagai investasi yang sangat baik.

Bamba, yang baru berusia 20 tahun, telah menunjukkan performa impresif sejak melakoni debut penuhnya untuk Monaco pada September lalu. Dalam 11 penampilan seniornya, ia berhasil menarik perhatian klub-klub besar, termasuk Newcastle.

Abel Lorincz, mantan pelatih teknis Monaco yang bertugas di fase pertahanan dan bola mati, mengenang debut Bamba dengan baik. “Dia sangat tenang dengan bola dan memberikan kesan yang sangat baik,” ujar Lorincz kepada Sky Sports.

Lorincz menambahkan bahwa Bamba berkembang dari tim akademi Monaco sebelum akhirnya mendapat kesempatan di tim utama. “Pertandingan melawan Auxerre adalah tanda awal yang sangat baik. Di akhir musim, dia sudah menjadi pemain reguler,” jelasnya.

Dalam pertandingan debutnya, Bamba tidak hanya mencatatkan 74 dari 78 operan sukses, tetapi juga memenangkan duel udara lebih banyak dari pemain lain. Pelatih Monaco saat itu, Adi Hutter, bahkan memuji penampilannya seperti pemain berpengalaman.

Keberhasilan Bamba dalam memenangkan duel menjadi ciri khas permainannya. Musim lalu di Ligue 1, ia rata-rata memenangkan 9,06 duel per 90 menit, lebih banyak dari pemain lain. Keunggulannya tidak hanya dalam duel udara, tetapi juga menempati peringkat kedua dalam duel darat dan keempat dalam tekel.

“Dia memiliki fisik yang kuat dan kemampuan duel udara yang mumpuni,” kata Lorincz. Kemampuannya ini diyakini dapat melindungi lini pertahanan, dan Eddie Howe, pelatih Newcastle, mengidentifikasi Bamba sebagai gelandang bertahan.

Namun, Bamba menawarkan lebih dari sekadar kekuatan fisik. Statistik operan suksesnya saat melawan Auxerre sejak awal menunjukkan kemampuannya dalam mendistribusikan bola. “Dia mahir dalam memecah kebuntuan tim lawan yang bermain rapat,” ungkap Lorincz. “Kemampuannya memberikan umpan-umpan pendek untuk membongkar pertahanan lawan sangat baik, dan ia piawai dalam berputar di bawah tekanan.”

Gaya bermain Bamba yang tenang dan kemampuannya untuk lepas dari penjagaan lawan dengan langkahnya yang panjang membuatnya menjadi gelandang yang tahan terhadap tekanan. Saat menguasai bola, ia menunjukkan ketenangan yang luar biasa, sering kali menggulirkan bola dengan telapak kakinya, sebuah detail kecil yang ia pelajari dari pengalamannya bermain futsal.

Hal ini membuat pelatih kepala Monaco sebelumnya, Sebastien Pocognoli, menggambarkan Bamba sebagai pemain yang tidak biasa. Analisis data menunjukkan bahwa secara defensif, ia memiliki kemiripan dengan Joao Gomes, yang juga baru saja pindah ke Aston Villa dengan biaya serupa.

Berbeda dengan Gomes yang mengandalkan energi penuh, gaya bermain Bamba lebih luwes namun tetap efektif dalam output defensifnya. Ia juga menawarkan lebih banyak variasi saat menguasai bola.

Manu dos Santos, mantan pelatih tim muda Bamba di Monaco, melihatnya sebagai pemain yang bisa berperan sebagai gelandang nomor 8 maupun nomor 6. Damien Perrinelle, asisten pelatih Monaco sebelumnya, juga melatih Bamba dalam strategi menembus garis pertahanan lawan.

“Anda tahu, tidak banyak pemain, terutama di liga Prancis yang sangat mengandalkan fisik dan pergerakan cepat, yang memiliki kemampuan untuk mengontrol tempo permainan seperti dia,” tambah Lorincz.

Bamba sendiri menyatakan kenyamanannya dalam menjalankan kedua peran tersebut. “Saya bisa terlibat dalam duel maupun bermain di antara lini. Itu bukan masalah bagi saya,” katanya. Sikap ini menjadi salah satu alasan mengapa ia disukai oleh para pelatih yang pernah bekerja dengannya.

“Saya tidak melakukan hal spesial. Saya berlatih. Saya pulang,” ujar Bamba, menggambarkan mentalitasnya. Lorincz terkesan dengan pendekatannya dalam latihan bola mati. “Anda bisa memintanya menjaga pemain lawan, bertahan di zona tertentu, melakukan blok, atau menyerang bola,” jelasnya.

“Dia selalu datang latihan lebih awal. Saat sarapan pagi, sebagai pelatih Anda datang lebih awal dari pemain. Tapi dia sering kali menjadi yang pertama datang dari tim. Dia selalu ada di sana lebih awal dan siap bekerja,” kenang Lorincz.

“Sejujurnya, saya merasa dia adalah tipe orang yang tenang, pendiam dalam arti yang baik. Dia bukan orang yang pemalu, tetapi juga tidak mencari perhatian yang tidak perlu, dan dia selalu beradaptasi dengan tantangan apa pun yang datang kepadanya,” tambahnya.

Tantangan bagi Bamba terus berlanjut. Ia sempat bermain di laga tandang Liga Champions melawan Paris Saint-Germain dan menjadi bagian dari tim yang mengalahkan juara bertahan Ligue 1 di ibu kota Prancis.

Musim semi lalu menandai percepatan perkembangannya, di mana ia menjadi starter dalam empat pertandingan liga berturut-turut yang semuanya dimenangkan. Saat itu, ia bertekad menjadi “starter yang tak terbantahkan” di Monaco. Namun, segalanya berubah.

Kini, ia menjadi pemain Premier League. Bukan lagi sekadar lulusan akademi, melainkan rekrutan bernilai besar dengan segala ekspektasi yang menyertainya. Bamba diharapkan menjadi komponen kunci dalam pembangunan kembali lini tengah Newcastle. Lorincz yakin Bamba mampu menghadapi langkah besar ini.

“Premier League adalah level tertinggi karena suatu alasan. Tapi selalu ada pemain yang semakin tinggi levelnya, semakin mereka beradaptasi. Dia harus bisa melangkah maju. Tapi dia jelas telah menunjukkan cukup untuk menunjukkan bahwa dia memiliki kapasitas untuk mengambil langkah berikutnya,” pungkas Lorincz.

“Saya harus mengatakan, selamat untuk Newcastle karena telah menemukannya,” tutupnya.